Hot
    Responsive Ads
    Home Nasional News

    Investasi 2026 Menguat, Pemerintah Dorong Transfer Teknologi lewat Proyek Strategis

    "Investasi 2026 diproyeksi menguat lewat PMDN, hilirisasi bauksit, waste-to-energy, data center, dan kesehatan. Ini peta sektornya"

    2 min read

    -
    Investasi 2026 Menguat, Pemerintah Dorong Transfer Teknologi lewat Proyek Strategis

    HARIANEXPRESS – Arah investasi Indonesia pada 2026 diperkirakan makin bertumpu pada modal domestik, tanpa berarti investor asing ditinggal. Fokus utamanya: hilirisasi mineral, pengolahan sampah menjadi energi, penguatan ekosistem data center, hingga sektor kesehatan. Narasi ini menguat seiring evaluasi capaian investasi 2025 yang menunjukkan porsi PMDN lebih besar dibanding PMA.

    Data Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun dan melampaui target. Dari angka itu, PMDN sebesar Rp1.030,3 triliun (53,4%) sedangkan PMA Rp900,9 triliun (46,6%).

    Gambaran dari sisi investasi asing juga menunjukkan tren yang “jalan, tapi melambat”. Reuters melaporkan penanaman modal asing langsung (FDI) 2025 naik tipis 0,1% menjadi Rp900,9 triliun, dengan sektor industri logam dasar sebagai penyerap terbesar, disusul pertambangan.

    Dalam tayangan YouTube “Tren Investasi 2026, Ini Sektor yang Dibidik Investor Asing dan Lokal”, narasumber menekankan bahwa perlambatan PMA pada 2025 lebih tepat dibaca sebagai PMDN yang bergerak lebih cepat, bukan karena minat asing berhenti total. Faktor yang ikut membayangi tetap klasik: ketegangan geopolitik dan geoekonomi yang bikin investor makin sensitif terhadap risiko dan ketidakpastian.

    Di sisi lain, pemerintah mengakui kompetisi regional semakin ketat. Contoh yang disebut adalah perebutan investasi data center dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Keunggulan yang diangkat: harga listrik yang relatif kompetitif dan bonus demografi, tetapi “PR” utamanya adalah kualitas talenta agar kebutuhan industri digital bisa dipenuhi.

    Salah satu motor yang disebut untuk mendorong percepatan investasi domestik adalah BPI Danantara (Daya Anagata Nusantara). Danantara sendiri diposisikan sebagai badan pengelola investasi strategis yang mengelola dan mengoptimalkan investasi pemerintah/aset BUMN. ([Danantara Indonesia][3])

    Dalam sejumlah pemberitaan, Rosan Roeslani menyebut ada paket proyek yang disiapkan, termasuk hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Kalimantan Barat dengan nilai sekitar US$2,8 miliar.

    Poin penting yang juga muncul dalam pembahasan: untuk proyek-proyek tertentu, investor asing didorong mengajak investor dalam negeri, agar terjadi alih teknologi dan alih pengetahuan, bukan sekadar arus modal.

    Topik yang cukup menonjol dalam pembicaraan adalah proyek waste-to-energy (WtE). Menurut laporan Bloomberg Technoz dan Listrik Indonesia, Danantara menargetkan groundbreaking sekitar Maret 2026 setelah proses bid yang sudah dimulai sejak Desember, dengan rencana proyek di banyak kota (disebut 33 kota) dan parameter teknis/bisnis disiapkan untuk mempercepat eksekusi.

    Secara lebih luas, Reuters sebelumnya juga melaporkan Danantara menyiapkan proyek-proyek WtE untuk merespons persoalan sampah nasional, dengan pendekatan konversi sampah menjadi listrik dan kebutuhan investasi per fasilitas yang besar.

    Selain hilirisasi dan energi, sektor kesehatan disebut ikut menjadi target, termasuk layanan/industri terkait plasma darah. Dalam logika kebijakan, sektor ini menarik karena kombinasi kebutuhan domestik yang kuat, peluang substitusi impor, dan potensi penciptaan lapangan kerja.

    Soal depresiasi rupiah, narasumber di video menyampaikan pandangan bahwa fluktuasi kurs masih berada pada rentang yang umumnya sudah diperhitungkan investor ketika memutuskan masuk ke Indonesia. Ini sejalan dengan praktik umum investasi lintas negara: kurs adalah risiko yang dimitigasi, sementara yang paling dihindari investor adalah ketidakpastian regulasi.

    Benang merahnya jelas: 2026 bukan sekadar soal “lebih banyak investasi”, tapi lebih cepat dieksekusi, lebih punya efek ke industri turunan, dan lebih terasa ke lapangan kerja. Pemerintah menekankan perbaikan yang berada dalam kendali—terutama regulasi dan kebijakan agar risiko ketidakpastian turun dan investor (asing maupun lokal) mau memperbesar komitmennya.

    Komentar
    Additional JS