medium banner 300x250
Hot
    Responsive Ads
    Home Global News

    Bijak Kelola Energi di Tengah Krisis Global

    "Tatanan global kacau akibat perang Rusia Ukraina. Indonesia harus bijak mengelola potensi energi dan transisi demi kestabilan nasional."

    6 min read

    -
    Bijak Kelola Energi di Tengah Krisis Global

    HARIANEXPRESS – Dunia sedang berada dalam titik balik yang sangat krusial. Tatanan global yang selama ini kita kenal kini porak poranda. Gejolak geopolitik memicu ketidakpastiran di mana-mana. Sumber utama ketegangan ini adalah perang antara Rusia dan Ukraina. Konflik ini bukan sekadar masalah wilayah. Ia telah mengguncang pondasi ekonomi dan keamanan energi dunia. Indonesia sebagai bagian dari dunia tentu merasakan dampaknya. Kita tidak bisa menutup mata. Pemerintah harus mengambil langkah antisipatif. Kita harus memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga.

    Rusia adalah salah satu pemain kunci di pasar energi global. Mereka adalah pemasok minyak dan gas alam terbesar di dunia. Eropa sangat bergantung pada pasokan gas dari Rusia. Perang yang terjadi mengubah peta ini sepenuhnya. Sanksi ekonomi dari Barat terhadap Rusia memicu reaksi berantai. Pasokan gas ke Eropa terganggu. Harga energi melonjak tajam di seluruh penjuru dunia. Inflasi menjadi ancaman nyata bagi negara maju maupun berkembang. Situasi ini memaksa banyak negara untuk mencari alternatif baru.

    Indonesia berada di posisi yang unik. Kita memegang presidensi G20 tahun ini. Isu energi dan pangan menjadi fokus utama dalam forum internasional tersebut. Dunia menatap Indonesia. Mereka melihat bagaimana kita menyikapi krisis ini. Apakah kita ikut terombang ambing atau justru memanfaatkan peluang. Kita harus menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana. Kita harus mampu menjaga stabilitas nasional sambil berkontribusi pada penyelesaian masalah global.

    Krisis Pasokan dan Dampak Berantai

    Ketegangan geopolitik ini menyebabkan gangguan serius pada rantai pasok global. Bukan hanya energi yang terdampak. Sembako dan barang-barang manufaktur juga ikut terkena imbasnya. Negara-negara maju kini berlomba-lomba mengamankan cadangan energi mereka. Mereka beralih kembali menggunakan batu bara. Ini sebuah ironi mengingat dunia sedang gencar kampanye energi hijau. Namun kebutuhan mendesak seringkali mengalahkan idealisme jangka panjang. Eropa yang selama ini getol menutup pembangkit listrik tenaga batu bara kini harus menyalakannya lagi.

    Harga komoditas energi melambung tinggi. Harga minyak mentah dunia menyentuh level yang sangat tinggi. Harga gas alam juga mengalami lonjakan yang ekstrem. Kondisi ini membebani keuangan negara-negara pengimpor energi. Biaya produksi industri meningkat drastis. Harga barang-barang konsumsi naik. Daya beli masyarakat menurun. Resesi ekonomi mengintai di banyak negara. Badai ini tidak mungkin berakhir dalam waktu dekat. Kita harus bersiap menghadapi realitas yang pahit ini.

    Indonesia sebenarnya memiliki modal yang kuat. Kita adalah negara penghasil energi. Kaya akan sumber daya alam. Namun kekayaan ini bukan jaminan otomatis bagi kesejahteraan. Manajemen yang salah justru bisa berakibat fatal. Kita harus belajar dari sejarah. Banyak negara kaya sumber daya tetapi rakyatnya miskin. Ini sering disebut sebagai kutukan sumber daya alam. Kita harus menghindari jebakan tersebut. Kekayaan alam harus dikelola untuk kepentingan bangsa sendiri.

    Peluang Ekspor dan Godaan Batu Bara

    Eropa yang kebingungan mencari pengganti gas Rusia mulai melirik batu bara. Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar di dunia. Permintaan pasar global yang tinggi membuat harga batu bara meroket. Nilai ekspor Indonesia meningkat pesat. Devisa negara bertambah. Penerimaan negara dari sektor migas dan non migas melonjak. Pemerintah memperoleh ruang fiskal yang lebih luas. Ini bisa menjadi modal untuk membangun infrastruktur dan mensubsidi energi bagi rakyat.

    Namun kita harus waspada. Ketergantungan pada harga komoditas yang tinggi bersifat sementara. Harga pasar energi sangat volatil. Apa yang naik dengan cepat bisa turun dengan cepat pula. Jangan sampai pemerintah lengah. Jangan sampai kita terjebak pada euforia keuntungan jangka pendek. Fokus utama harus tetap pada ketahanan energi jangka panjang. Kita harus menyeimbangkan antara mengeruk keuntungan ekspor dan menjaga kebutuhan domestik. Kewajiban pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation harus dijalankan dengan tegas. Jangan sampai PLN kekurangan bahan bakar hanya karena semua batu bara kita ekspor.

    Selain batu bara komoditas lain seperti minyak sawit mentah atau CPO juga mengalami kenaikan harga. Ini memberikan pemasukan besar bagi negara. Namun lagi-lagi kita harus hati-hati. Jangan biarkan industri dalam negeri kekurangan bahan baku. Jangan biarkan masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng. Prioritas utama tetap adalah kebutuhan rakyat. Keuntungan ekspor harus kembali untuk kemakmuran rakyat. Bukan hanya dinikmati oleh segelintir pengusaha besar.

    Ancaman Inflasi dan Kebutuhan Subsidi

    Dampak kenaikan harga energi global pasti sampai ke Indonesia. Harga BBM di dalam negeri terdorong naik. Pemerintah terpaksa menaikkan harga beberapa jenis BBM bersubsidi. Keputusan ini sangat berat namun harus diambil. APBN tidak mungkin menanggung beban subsidi yang terus membengkak. Harga minyak dunia yang tinggi membuat beban keuangan negara semakin berat. Jika tidak dikendalikan defisit anggaran bisa membahayakan stabilitas makroekonomi kita.

    Kenaikan harga BBM berimbas pada harga kebutuhan pokok. Biaya transportasi naik. Biaya distribusi barang naik. Inflasi menjadi tantangan yang harus dihadapi. Masyarakat menengah bawah paling merasakan dampaknya. Daya beli mereka menurun. Pemerintah harus hadir memberikan bantuan sosial. Bansos harus tepat sasaran. Tujuannya adalah untuk meringankan beban rakyat. Negara harus memastikan bahwa tidak ada warganya yang kelaparan atau tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.

    Di sisi lain pemerintah juga mendorong penggunaan energi alternatif. Program konversi minyak tanah ke elpiji dan BBM ke electric terus digalakkan. Subsidi energi juga mulai diarahkan ke yang lebih tepat sasaran. Kartu perlindungan sosial menjadi instrumen penting. Transformasi ekonomi sedang berlangsung. Kita berharap badai global ini segera berlalu. Namun kita juga harus memperkuat daya tahan ekonomi kita. Ekonomi yang keropos mudah hancur oleh badai. Ekonomi yang kuat akan mampu bertahan.

    Pentingnya Transisi Energi yang Tepat

    Krisis energi global ini memberikan pelajaran berharga. Ketergantungan pada energi fosil sangat berisiko. Cadangan fosil tidak akan selamanya ada. Harganya juga tidak stabil. Fluktuasi harga seringkali dipengaruhi oleh politik internasional. Untuk itu transisi menuju energi baru terbarukan atau EBT bukan lagi sekadar pilihan. Ini adalah sebuah keharusan. Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar. Matahari bersinar sepanjang tahun. Angin bertiup kencang di banyak daerah. Aliran sungai yang deras. Potensi panas bumi yang melimpah ruah.

    Kita belum maksimal mengelola potensi ini. Pemanfaatan energi surya masih minim. Pembangkit listrik tenaga bayu atau angin baru berkembang di beberapa tempat. Pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi perlu dikembangkan lebih agresif. Investasi di sektor EBT harus didorong. Regulasi harus mendukung. Iklim investasi yang kondusif akan menarik investor masuk. Teknologi EBT semakin hari semakin murah. Biaya produksi listrik dari surya dan angin kini makin kompetitif dibandingkan batu bara.

    Transisi energi juga membuka peluang lapangan kerja baru. Industri komponen EBT bisa berkembang di dalam negeri. Teknisi dan ahli energi hijau akan dibutuhkan. Ini bisa menjadi solusi bagi pengangguran. Indonesia bisa menjadi pemain utama di industri energi hijau masa depan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi aktor utama. Keberlanjutan lingkungan dan ketahanan energi bisa berjalan beriringan.

    Tantangan Infrastruktur dan Biaya

    Meskipun potensinya besar transisi energi tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Infrastruktur kelistrikan kita masih terpusat. Jaringan transmisi belum menjangkau seluruh daerah potensial EBT. Biaya investasi untuk membangun pembangkit EBT masih tergolong tinggi di awal. Perbankan masih ragu untuk memberikan pembiayaan. Risiko investasi di sektor energi selalu dianggap tinggi. Pemerintah perlu memberikan jaminan atau insentif yang menarik.

    Intermitensi atau ketidakteraturan pasokan EBT juga menjadi tantangan. Matahari tidak bersinar malam hari. Angin tidak bertiup setiap saat. Kita membutuhkan teknologi penyimpanan energi yang canggih. Battery energy storage system atau BESS masih mahal harganya. Kita perlu riset dan pengembangan di bidang ini. Kerjasama dengan negara lain dalam transfer teknologi sangat penting. Jangan sampai kita tertinggal lagi.

    Selain itu ada juga aspek sosial. Transisi energi akan berdampak pada pekerja di sektor tambang batu bara. Jutaan pekerja terancam kehilangan pekerjaan jika tambang tutup. Kita harus merancang skema transisi yang adil. Pekerja harus mendapatkan pelatihan keterampilan baru. Mereka harus disiapkan untuk masuk ke sektor energi hijau. Daerah-daerah yang selama ini menggantungkan pendapatan dari batu bara juga harus beradaptasi. Jangan biarkan daerah-daerah itu mati ekonominya. Transisi yang adil adalah kunci keberhasilan.

    Peran Strategis Indonesia di G20

    Presidensi G20 Indonesia menjadi momentum penting. Kita bisa memimpin diskusi global mengenai pemulihan ekonomi dan energi. Isu ketahanan kesehatan dan transformasi energi menjadi prioritas. Indonesia bisa menyuarakan kepentingan negara berkembang. Negara maju tidak boleh memaksakan standar ganda. Mereka harus membantu negara berkembang dalam transisi energi. Transfer teknologi dan pendanaan harus nyata.

    Negara-negara G20 bertanggung jawab atas sebagian besar emisi gas rumah kaca. Mereka juga menguasai teknologi energi hijau. Kerjasama multilateral adalah kunci. Tidak ada negara yang bisa menyelesaikan masalah iklim sendirian. Indonesia bisa menjadi jembatan antara kepentingan utara dan selatan. Kita bisa mendorong tercapainya kesepakatan yang saling menguntungkan.

    Forum G20 juga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan investasi. Indonesia bisa menawarkan proyek-proyek energi hijau kepada investor global. Potensi panas bumi dan energi surya kita bisa dipamerkan. Ini kesempatan emas untuk membangun kredibilitas Indonesia di mata dunia. Diplomasi energi harus kita galakkan. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra yang serius dalam menangani perubahan iklim.

    Kesimpulan dan Tindak Lanjut

    Krisis energi global saat ini adalah ujian berat bagi bangsa Indonesia. Tatanan global yang porak poranda menuntut kebijakan yang tepat sasaran. Kita tidak boleh panik. Kita juga tidak boleh pesimis. Kita memiliki sumber daya yang melimpah. Kita memiliki pasar yang besar. Yang kita perlukan adalah manajemen yang baik dan komitmen kuat dari pemimpin.

    Pemerintah harus bijaksana mengelola kekayaan alam. Jangan cepat tergoda oleh keuntungan sesaat. Fokuslah pada pembangunan berkelanjutan. Gunakan pemasukan dari ekspor energi saat ini untuk membiayai transisi. Bangun infrastruktur energi masa depan. Kurangi ketergantungan pada impor BBM. Kembangkan energi terbarukan secara masif. Lindungi kelompok rentan dari dampak inflasi.

    Masyarakat juga harus berperan aktif. Kita harus mulai menerapkan gaya hidup hemat energi. Jangan buang-buang listrik. Gunakan peralatan yang ramah lingkungan. Dukung kebijakan pemerintah dalam pengembangan EBT. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jika kita semua bergerak maju bersama maka badai krisis ini akan kita lalui. Indonesia akan keluar sebagai negara yang lebih kuat dan mandiri. Kita wujudkan kedaulatan energi demi kesejahteraan rakyat. Kita capai pembangunan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

    Mari kita doakan agar situasi global kembali kondusif. Namun kita juga harus terus waspada. Siap siang adalah kunci dalam menghadapi ketidakpastiran. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu bertahan di tengah badai. Mari kita buktikan bahwa Indonesia mampu. Mari kita tunjukkan bahwa kita mengelola potensi energi dengan bijak. Demi Indonesia yang lebih baik. Demi masa depan anak cucu kita.

    Sumber: Bambang Susatyo, Anggota DPR RI

    Komentar
    medium banner 300x250
    Additional JS