Apa Itu OTT KPK? Panduan Lengkap Pengertian, Proses, dan Contoh Kasus Terbaru 2026
"Apa itu OTT KPK? Penjelasan lengkap 2026: pengertian, dasar hukum, tahapan proses, tujuan, dan contoh kasus terbaru. Pahami senjata pamungkas KPK ini."
Agus Fauzan Penulis | Miranda Gojali Editor
HARIANEXPRESS – Istilah OTT KPK sering muncul di berita ketika ada pejabat atau pihak tertentu ditangkap karena korupsi. Tapi apa sebenarnya OTT itu? Mengapa sering jadi senjata andalan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam memberantas korupsi?
Di artikel ini, kami jelaskan secara lengkap apa itu OTT KPK, dasar hukumnya, tahapan proses, tujuan, serta contoh kasus nyata terbaru di tahun 2026. Informasi ini berdasarkan data resmi KPK dan pemberitaan terkini.
![]() |
| ilustrasi operasi tangkap tangan KPK |
Apa Itu OTT KPK?
OTT adalah singkatan dari Operasi Tangkap Tangan. OTT KPK adalah metode penindakan khusus di mana tim KPK menangkap pelaku tindak pidana korupsi secara langsung saat kejadian sedang berlangsung—misalnya saat menerima atau menyerahkan suap, gratifikasi, atau barang bukti korupsi lainnya.
OTT disebut juga "tangkap basah" karena pelaku ditangkap saat melakukan perbuatan pidana, lengkap dengan bukti kuat seperti uang suap, dokumen, atau barang bukti lain. Ini membuat kasus lebih mudah dibuktikan di pengadilan.
Menurut KPK, OTT adalah salah satu cara efektif karena:
- Bukti langsung (in flagrante delicto) sulit dibantah.
- Mencegah pelaku menghilangkan jejak.
- Memberi efek jera tinggi bagi pelaku korupsi.
Baca juga: Cara Melaporkan Korupsi ke KPK: Panduan Lengkap dan Aman 2026
Dasar Hukum OTT KPK
OTT diatur dalam:
- UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (sebagaimana diubah UU No. 19 Tahun 2019).
- Pasal 75 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana): Penangkapan tertangkap tangan boleh dilakukan tanpa surat perintah jika pelaku sedang melakukan tindak pidana.
- Pasal 1 ayat 19 KUHAP: Definisi "tertangkap tangan" sebagai penangkapan pelaku saat melakukan, baru selesai, atau segera setelah melakukan pidana.
KPK memiliki kewenangan khusus untuk melakukan OTT tanpa izin instansi lain, selama memenuhi prosedur internal dan hukum.
Tujuan OTT KPK
1. Ungkap korupsi secara cepat dengan bukti kuat.
2. Cegah kerugian negara lebih lanjut (misal suap proyek yang bisa merugikan miliaran rupiah).
3. Berikan efek jera bagi pejabat dan swasta yang terlibat korupsi.
4. Dorong partisipasi masyarakat melalui laporan pengaduan yang sering jadi pemicu OTT.
Banyak OTT berasal dari pengaduan masyarakat via KWS KPK atau kanal lain.
Tahapan Proses OTT KPK
Proses OTT biasanya rahasia dan terencana. Berikut tahapannya secara umum:
1. Pengumpulan Informasi
Dari pengaduan masyarakat, intelijen KPK, atau monitoring berita. Informasi diverifikasi dulu.
2. Penelaahan dan Penyelidikan Awal
KPK kumpulkan bukti permulaan. Jika cukup, naik ke tahap penyelidikan.
3. Perencanaan Operasi
Tim tentukan waktu, lokasi, target, dan strategi. Semua rahasia untuk hindari kebocoran.
4. Pelaksanaan OTT
Tim KPK gerak cepat: tangkap pelaku, amankan barang bukti (uang, emas, dokumen), dan bawa ke markas untuk pemeriksaan.
5. Penetapan Tersangka
Dalam 1x24 jam (sesuai KUHAP), KPK tentukan status. Jika bukti cukup, tetapkan tersangka dan umumkan ke publik.
6. Penyidikan & Persidangan
Kasus dilanjutkan ke penyidikan, penuntutan, hingga vonis pengadilan.
Contoh Kasus OTT KPK Terbaru 2026
Tahun 2026 dimulai "panas" dengan beberapa OTT KPK:
- OTT Pajak Jakarta Utara (9-10 Januari 2026)
OTT perdana tahun ini menjerat 8 orang (4 pegawai Ditjen Pajak + 4 swasta). Dugaan suap pengaturan pajak sektor pertambangan. Barang bukti: uang Rp6,38 miliar + emas 1,3 kg. Kasus ini jadi contoh kebocoran penerimaan negara.
- OTT Wali Kota Madiun Maidi (19 Januari 2026)
KPK amankan Wali Kota Maidi + 14 orang lain. Dugaan suap fee proyek infrastruktur dan penyalahgunaan dana CSR swasta. Uang ratusan juta diamankan.
- OTT Bupati Pati Sudewo (19 Januari 2026)
OTT beruntun di hari yang sama. Bupati Sudewo ditangkap terkait dugaan suap jual beli jabatan. Ini OTT ketiga dalam 9 hari Januari 2026.
Contoh sebelumnya (2025): OTT Bupati Lampung Tengah (gratifikasi PBJ), Bupati Ponorogo (suap proyek), dll.
Baca juga: KPK Bongkar Jual Beli Jabatan Perangkat Desa Pati
Mengapa OTT Penting bagi Pemberantasan Korupsi?
OTT bukan hanya tangkap pelaku, tapi juga ungkap jaringan korupsi sistematis. Mayoritas OTT KPK berasal dari laporan masyarakat, membuktikan peran warga sangat krusial.
Jika Anda punya informasi korupsi, laporkan sekarang—identitas terjamin rahasia.
Kesimpulan
OTT KPK adalah alat tajam pemberantasan korupsi: cepat, efektif, dan berbasis bukti langsung. Dengan semakin banyak OTT di 2026, harapannya Indonesia semakin bersih dari korupsi.

Harap berkomentar yang sopan dan sesuai topik, komentar berisi spam akan dimoderasi. Terima kasih