medium banner 300x250
Hot
    Responsive Ads
    Home Global Headline News

    Ketegangan AS–Iran Meningkat, Pengamat Nilai Serangan Langsung Masih Kecil

    "Ketegangan Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah armada laut AS bersiaga di Timur Tengah. Pengamat menilai langkah Trump masih bersifat tekanan."

    1 min read

    -
    Ketegangan AS–Iran Meningkat, Pengamat Nilai Serangan Langsung Masih Kecil

    HARIANEXPRESS –Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat menyusul langkah Washington mengerahkan armada lautnya ke kawasan Timur Tengah. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan terjadinya eskalasi konflik bersenjata antara dua kekuatan besar tersebut.

    Pengamat Hubungan Internasional dari BINUS University, Tia Mariatul, menilai peluang serangan langsung Amerika Serikat ke Iran masih berada pada posisi yang belum pasti. Menurutnya, konflik antara kedua negara tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai pertarungan satu lawan satu.

    Ia menjelaskan bahwa di balik Iran dan Amerika Serikat terdapat dua poros aliansi global besar. Amerika Serikat didukung oleh sekutu-sekutunya seperti Arab Saudi, negara-negara Teluk, dan Uni Emirat Arab. Sementara Iran memiliki dukungan strategis dari Cina dan Rusia yang memiliki kepentingan ekonomi besar di kawasan tersebut.

    “Setiap kali Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras, itu tidak otomatis berarti akan terjadi perang. Banyak kepentingan global yang ikut terganggu jika konflik benar-benar meletus,” ujarnya.

    Tia juga menyoroti gaya kepemimpinan Trump yang kerap mengeluarkan pernyataan kontradiktif dan cenderung mengabaikan hukum internasional serta lembaga dunia seperti PBB. Namun demikian, ia menilai langkah pengerahan kapal induk ke Timur Tengah lebih merupakan bentuk unjuk kekuatan dan tekanan politik terhadap Iran.

    Menurutnya, Amerika Serikat memiliki keunggulan militer yang signifikan dibanding Iran. Meski demikian, keputusan untuk menyerang tidak bisa diambil secara sepihak oleh Trump. Ada Kongres, parlemen, serta para menteri yang turut memberikan pertimbangan, termasuk melihat respons Cina dan Rusia.

    Ia menegaskan bahwa jika Cina dan Rusia menunjukkan pergerakan militer atau dukungan terbuka kepada Iran, maka Amerika Serikat cenderung akan menahan diri. Hal ini disebabkan oleh besarnya risiko geopolitik dan ekonomi, terutama terkait jalur energi strategis Selat Hormuz.

    Di sisi lain, Tia menilai rezim Iran di bawah sistem Wilayat al-Faqih tidak akan mudah goyah meskipun mendapatkan tekanan kuat dari luar. Bahkan, ia mengingatkan masyarakat Iran agar tidak mudah terprovokasi oleh wacana pergantian rezim yang justru berpotensi memperburuk kondisi negara tersebut.

    “Bagi Amerika Serikat, isu hak asasi manusia sering dijadikan legitimasi untuk melakukan intervensi. Semakin besar konflik internal dan korban sipil, semakin kuat alasan untuk melakukan tekanan atau serangan,” jelasnya.

    Terkait potensi perang dunia ketiga, Tia berharap semua pihak dapat menahan diri. Ia mengingatkan bahwa dampak konflik besar tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang bertikai, tetapi juga negara berkembang termasuk kawasan Asia dan ASEAN.

    Menurutnya, kenaikan harga energi dan gangguan ekonomi global akan paling berat dirasakan oleh negara-negara berkembang. Oleh karena itu, ia mengajak media dan para pemimpin dunia untuk lebih mengedepankan upaya perdamaian dan meredam eskalasi konflik.

    “Kalaupun tidak terjadi perang besar, kondisi ekonomi global saat ini sudah cukup rapuh. Perang hanya akan memperburuk keadaan dan mengorbankan jutaan hingga miliaran nyawa manusia,” pungkasnya.

    Komentar
    medium banner 300x250
    Additional JS