medium banner 300x250
Hot
    Home Tidak Ada Kategori

    IHSG Masih Datar, Cek Emiten yang Umumkan Aksi Korporasi

    4 min read

    -
    IHSG Masih Datar, Cek Emiten yang Umumkan Aksi Korporasi

    HARIANEXPRESS – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bergerak terbatas dan nyaris tidak berubah dalam perdagangan terbaru. Riset Mega Capital Sekuritas merangkum pergerakan indeks serta daftar emiten yang mengumumkan aksi korporasi. Jakarta. Jumat (2/1/2026).

    IHSG mencatat gerak terbatas pada perdagangan Selasa (30/12). Indeks menutup sesi dengan kenaikan tipis 0,03% dan bertahan di level 8.646,94. Pergerakan pasar tidak membentuk tren kuat karena pelaku pasar memilih menahan transaksi saat periode libur akhir tahun.

    Sejumlah saham mencuri perhatian karena kenaikan tajam. Saham FILM melesat 12,84%. Saham SMMA naik 12,62%. Saham BREN menguat 1,84%. Kenaikan tiga saham itu membantu menopang indeks ketika pasar bergerak variatif.

    Tekanan juga muncul dari beberapa saham berkapitalisasi besar. Saham BBRI turun 3,17%. Saham DCII melemah 6,77%. Saham AMMN terkoreksi 3,38%. Pelemahan ini menahan ruang kenaikan IHSG sehingga indeks hanya bergerak tipis.

    Dari sisi arus dana investor asing riset tersebut mencatat aksi jual bersih yang cukup besar. Investor asing membukukan jual bersih Rp888,53 miliar di pasar reguler. Jika dihitung untuk seluruh pasar nilai jual bersih asing mencapai Rp937,79 miliar. Angka itu menunjukkan investor asing memilih mengurangi posisi saat aktivitas perdagangan berjalan lebih sepi.

    Pergerakan sektoral juga menunjukkan hasil yang campuran. Enam dari sebelas sektor menutup perdagangan di zona hijau. Sektor consumer cyclicals mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,03%. Sektor healthcare mengalami pelemahan paling dalam dengan penurunan 1,53%. Komposisi ini menggambarkan rotasi minat yang tidak merata di antara sektor.

    Riset tersebut menilai aktivitas pasar yang sepi saat libur Tahun Baru ikut membatasi pergerakan indeks. Kondisi itu membuat IHSG berpeluang bergerak mendatar dalam jangka pendek. Pelaku pasar menunggu katalis baru yang lebih jelas untuk menentukan arah.

    Mega Capital Sekuritas menilai perubahan yang lebih tegas bisa muncul setelah rilis data inflasi Desember dan neraca perdagangan November. Rencana rilis data tersebut jatuh pada awal tahun 2026. Data makro tersebut berpotensi memengaruhi sentimen karena investor biasanya memakai angka inflasi dan neraca dagang sebagai acuan membaca kondisi ekonomi serta arah kebijakan selanjutnya.

    Di tengah pergerakan indeks yang cenderung terbatas riset itu juga menyoroti kabar korporasi dari sejumlah emiten. Dua emiten yang muncul dalam catatan aksi korporasi ialah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atau INTP dan PT Chandra Daya Investasi Tbk atau CDIA.

    INTP mengambil langkah bisnis melalui anak usahanya Pionirbetor Industri atau PBI. PBI memperluas portofolio usaha dengan masuk lebih dalam ke segmen mortar siap pakai. Langkah ini menunjukkan perusahaan berupaya menambah lini usaha yang masih beririsan dengan sektor bahan bangunan.

    PBI menempuh strategi lewat pembentukan usaha patungan. PBI bekerja sama dengan Cipta Mortar Utama atau CMU. CMU berada di bawah Saint Gobain Group. Dalam kerja sama tersebut CMU menyetor modal sebesar Rp455 miliar.

    Setoran modal tersebut memberi CMU porsi kepemilikan 60% pada lini bisnis mortar siap pakai milik PBI. Struktur kepemilikan ini menunjukkan CMU mengambil peran dominan dalam usaha patungan untuk lini bisnis mortar siap pakai tersebut. Pada saat yang sama PBI tetap terlibat dalam pengembangan bisnis karena PBI merupakan pihak yang membawa aset dan kegiatan usaha yang terkait.

    Entitas hasil kerja sama ini bernama Mortar Prakarsa Utama atau MPU. Saat ini MPU sudah mengoperasikan tiga pabrik. Pabrik tersebut berlokasi di Citeureup Jawa Barat dan Lampung. Keberadaan fasilitas produksi ini menandakan kerja sama tidak berhenti pada rencana di atas kertas karena operasi sudah berjalan.

    MPU menjalankan sejumlah produk unggulan untuk menjangkau pasar mortar siap pakai. Riset tersebut juga mencatat proyeksi pertumbuhan permintaan mortar siap pakai domestik. Riset menyebut pasar mortar siap pakai domestik berpotensi terus tumbuh hingga 2030. Proyeksi tersebut menjadi salah satu latar yang mendorong langkah ekspansi bisnis ke segmen tersebut.

    Emiten berikutnya yang masuk dalam sorotan ialah CDIA. CDIA menetapkan pembagian dividen interim perdana sebesar Rp1,34 per saham. Keputusan pembagian dividen interim ini menjadi catatan penting karena perusahaan memilih mulai membagikan dividen di tengah tahun buku.

    CDIA mengambil sumber dividen dari laba bersih semester pertama 2025. Laba bersih periode tersebut tercatat sebesar USD 67,84 juta. Total nilai dividen yang CDIA siapkan diperkirakan mencapai Rp167,7 miliar. Angka tersebut menggambarkan skala pembagian dividen interim yang perusahaan rencanakan.

    Rasio pembagian dividen CDIA berada di kisaran 14,74%. Riset tersebut menilai rasio itu tidak mengganggu posisi permodalan perseroan. CDIA masih menyimpan saldo laba ditahan sebesar USD 78,40 juta. Dengan posisi saldo laba ditahan itu perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk menjaga kekuatan keuangan setelah membagikan dividen interim.

    Namun riset juga menyoroti tingkat imbal hasil dividen tersebut. Berdasarkan harga penutupan terakhir saham CDIA dividen interim ini mencerminkan tingkat imbal hasil yang relatif terbatas. Catatan ini menunjukkan investor tetap perlu menghitung yield terhadap harga saham saat mereka menilai daya tarik dividen.

    Selain merangkum pergerakan indeks dan kabar emiten riset Mega Capital Sekuritas juga memuat rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini. Rekomendasi ini bersifat informatif dan riset menyertakan batasan area beli serta target dan batas risiko.

    Berikut rekomendasi saham yang tercantum.

    NICL. Area buy 1200 sampai 1215. Target 1250 sampai 1290. Stop loss 1140.

    BUVA. Area buy 1370 sampai 1385. Target 1410 sampai 1450. Stop loss 1290.

    INKP. Area buy 8425 sampai 8500. Target 8650 sampai 8775. Stop loss 8025.

    ENRG. Area buy 1580 sampai 1600. Target 1625 sampai 1650. Stop loss 1500.

    PPRE. Area buy 167 sampai 172. Target 176 sampai 180. Stop loss 157.

    Di bagian akhir riset menegaskan status rekomendasi tersebut. Riset menyebut seluruh analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Riset menekankan keputusan investasi berada di tangan masing masing investor sesuai profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.

    Riset juga mengarahkan pembaca untuk menyimak konten video terkait pergerakan IHSG. Topik video itu menyoroti prediksi IHSG yang sempat mengarah ke level 9.000 namun target tersebut gagal tercapai.

    Secara keseluruhan IHSG bergerak terbatas dengan kenaikan yang sangat tipis pada perdagangan Selasa (30/12). Kenaikan saham FILM dan SMMA serta penguatan BREN ikut menopang indeks. Di sisi lain pelemahan BBRI dan DCII serta koreksi AMMN menahan ruang penguatan.

    Arus dana investor asing menunjukkan tekanan jual bersih yang menonjol. Investor asing mencatat net sell Rp888,53 miliar di pasar reguler dan Rp937,79 miliar di seluruh pasar. Pada level sektoral enam sektor mencatat penguatan dan consumer cyclicals memimpin kenaikan. Healthcare menanggung penurunan terdalam.

    Di tengah kondisi pasar yang masih sepi saat libur Tahun Baru pelaku pasar memperkirakan IHSG masih bergerak mendatar. Sentimen yang lebih jelas berpotensi muncul setelah rilis data inflasi Desember dan neraca perdagangan November pada awal tahun 2026.

    Sementara itu emiten juga menjalankan agenda korporasi. INTP lewat PBI memperluas bisnis mortar siap pakai melalui usaha patungan dengan CMU yang berada di bawah Saint Gobain Group. CMU menyetor Rp455 miliar dan menguasai 60% kepemilikan pada lini bisnis mortar siap pakai PBI. Entitas MPU sudah mengoperasikan tiga pabrik di Citeureup Jawa Barat dan Lampung.

    CDIA menetapkan dividen interim perdana Rp1,34 per saham. Dividen bersumber dari laba bersih semester pertama 2025 sebesar USD 67,84 juta. Total dividen diperkirakan Rp167,7 miliar dengan payout ratio sekitar 14,74%. CDIA mencatat saldo laba ditahan USD 78,40 juta dan riset menilai dividen itu tidak mengganggu permodalan walau yield terlihat terbatas.

    Dengan rangkuman ini investor memperoleh gambaran pergerakan IHSG dan arus dana asing sekaligus mendapat update aksi korporasi emiten serta daftar rekomendasi perdagangan harian.

    Comments
    medium banner 300x250
    Additional JS