Hot
    Responsive Ads
    Home Headline Nasional News Regional

    Pilu: Puluhan Anak Korban Banjir Bandang Sumbar Sulit Diidentifikasi, Jenazah Masih Berstatus Misterius

    1 min read

    -
    Pilu: Puluhan Anak Korban Banjir Bandang Sumbar Sulit Diidentifikasi, Jenazah Masih Berstatus Misterius

    pilu-anak-korban-banjir-sumbar-sulit-diidentifikasi-jenazah-misterius

    Padang - Banjir bandang yang melanda Sumatera Barat meninggalkan duka mendalam dengan puluhan anak menjadi korban tewas. Jenazah mereka sulit dikenali secara visual, sehingga masih berstatus misterius atau mr x. Hingga Selasa (2/12/2025), setidaknya 25 jenazah anak ini belum teridentifikasi meski telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang.

    Bencana alam ini terjadi di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Kabupaten Agam, akibat hujan deras sejak akhir November. Evakuasi jenazah dilakukan oleh prajurit Batalyon TP 897/Singalang pada Senin (1/12/2025). Kondisi medan sulit membuat proses penyelamatan semakin rumit, dengan banyak rumah rusak berat dan barang-barang berserakan.

    Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, dr. Harry Andromeda, menjelaskan tantangan identifikasi. Pemeriksaan sidik jari tidak memungkinkan karena korban berusia di bawah umur.

    "Sebagian besar banyak terdiri anak-anak. Anak-anak ini dari sidik jari tidak bisa dilakukan pemeriksaan. Dan juga mungkin banyak korban anak ini, orang tuanya juga menjadi korban, sehingga tidak ada yang merasa kehilangan," katanya di rumah sakit tersebut pada Selasa (2/12/2025).

    Menurut Harry, kondisi visual jenazah sudah memburuk, menyulitkan tim Disaster Victim Identification (DVI).

    "Secara visual sudah sulit dilihat, menyulitkan tim DVI mengidentifikasi," tambahnya. Untuk mengatasi hal itu, sampel DNA diambil dari gigi, jari, hingga tulang. Namun, proses memerlukan data pembanding dari keluarga.
    "Karena dalam pengambilan sampel DNA perlunya data sektor pembanding untuk kami cocokkan. Jadi jika tidak ada sektor pembanding, kami belum bisa mengambil langkah selanjutnya untuk proses identifikasi dari 25 jenazah ini," ungkap Harry.

    Data di posko antermortem rumah sakit juga belum cocok dengan jenazah tersebut.

    Pihak rumah sakit mengajak warga yang kehilangan anggota keluarga mendatangi fasilitas medis atau posko DVI di berbagai kabupaten dan kota. Sampel DNA dari kerabat bisa dicocokkan langsung. Sementara itu, jenazah disimpan di ruang pendingin terbatas.

    "Kami hanya punya empat pendingin, RSUP M Djamil dua, RS Unand dua, sudah kami titip semua. Kami juga mendapat bantuan satu mobil boks pendingin dari dinas pertanian. Dengan bantuan ini kami bisa menyimpan mayat yang belum diambil keluarga," pungkas Harry.

    Upaya identifikasi terus dilakukan di tengah keterbatasan sumber daya. Koordinasi antarlembaga diharapkan mempercepat proses, sehingga keluarga korban segera mendapat kepastian.

    Komentar
    Additional JS