Hot
    Responsive Ads
    Home News Regional

    Bencana Sumut: 147 Meninggal, 174 Hilang, Ribuan Mengungsi

    2 min read

    -
    Bencana Sumut: 147 Meninggal, 174 Hilang, Ribuan Mengungsi

    MEDAN – Bencana alam berupa banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Utara sejak 24 November 2025 telah menimbulkan korban jiwa signifikan. Hingga Sabtu (29/11/2025) pukul 09.00 WIB, Polisi Daerah (Polda) Sumatera Utara mencatat 147 orang meninggal dunia, 174 orang masih hilang, serta total 1.076 korban luka-luka. Selain itu, 28.427 warga terpaksa mengungsi akibat 488 kejadian bencana yang tersebar di 21 kabupaten/kota.

    Data terbaru ini disampaikan oleh Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, dalam keterangan persnya.

    "Update data terbaru, bencana ini menimbulkan dampak signifikan, tercatat 1.076 korban, 147 meninggal dunia, 32 luka berat, 722 luka ringan, dan 174 masih dalam pencarian, serta ada 28.427 mengungsi," ujarnya.

    Fenomena bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang memicu longsor tanah, banjir, pohon tumbang, serta angin puting beliung. Secara historis, Sumatera Utara rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti ini, terutama di musim penghujan yang sering kali diperburuk oleh deforestasi dan perubahan iklim.

    Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pola cuaca La Niña yang diprediksi berlanjut hingga akhir 2025 telah meningkatkan risiko banjir dan longsor di wilayah Sumatra, dengan peningkatan curah hujan hingga 20-30 persen di atas normal.

    Wilayah paling parah terdampak adalah Kabupaten Tapanuli Selatan, yang mencatat 56 kejadian dengan 691 korban, termasuk 47 meninggal dan 51 hilang.

    "Wilayah paling terdampak berada di Kabupaten [Tapanuli Selatan], yang mencatat 56 kejadian bencana dengan 691 korban, termasuk 47 meninggal dunia dan 51 masih dalam pencarian," tambah Ferry. Di Kota Sibolga, angka korban jiwa mencapai 33 orang tewas dan 56 hilang, sementara Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Mandailing Natal (Madina) juga mengalami longsor dan banjir masif yang memaksa ribuan penduduk meninggalkan rumah. "Sementara itu, Taput, Tapsel, dan Madina juga mengalami peningkatan jumlah longsor dan banjir yang memaksa ribuan warga mengungsi," lanjutnya.
    Upaya penanganan darurat digerakkan secara masif oleh Polda Sumut dengan mengerahkan 3.553 personel polisi. Tim gabungan fokus pada operasi pencarian dan pertolongan (SAR), pembukaan akses jalan yang tertutup longsor, distribusi logistik ke pengungsi, pendirian dapur umum, serta layanan kesehatan darurat.

    Koordinasi dengan BNPB, TNI, dan pemerintah daerah setempat telah membentuk pos komando terpadu di titik-titik rawan, termasuk penggunaan drone untuk pemantauan dan helikopter untuk evakuasi korban di daerah terpencil.

    Meski demikian, tantangan utama tetap pada aksesibilitas medan yang sulit dan cuaca buruk yang menghambat SAR. Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR juga berjanji mempercepat normalisasi sungai dan drainase di Sumatera Utara sebagai langkah pencegahan jangka panjang, dengan alokasi anggaran tambahan Rp 500 miliar untuk infrastruktur mitigasi bencana. Hingga kini, operasi SAR terus berlangsung, dengan harapan memaksimalkan penyelamatan korban hilang sebelum kondisi memburuk.

    Update ini menekankan urgensi kesiapsiagaan bencana di tingkat masyarakat, di mana edukasi dini peringatan dan pemetaan zona rawan menjadi kunci untuk mengurangi dampak serupa di masa depan. Polda Sumut menyerukan warga untuk tetap waspada dan mengikuti arahan evakuasi dari otoritas setempat.

    Sumber Referensi
    1. Kompas - https://medan.kompas.com/read/2025/11/29/124442978/update-korban-bencana-sumut-dari-polda-147-orang-meninggal-174-hilang-dan
    Komentar
    Additional JS